Monday, 26 September 2011

Y.O.U



Marriage is like..


Having kids with him

The most important part is

When I look at him every morning as my energy bar


And before sleep at night as my guardian angel.


The rest ...is sailing the ship whenever it is sad or happy.

Superhuman









Tadi sambil wat notes dengar lagu
superman   superhuman..


Bait2 die ...

I'm feeling all superhuman you did this to me
A superhuman heart beats in me
Nothing can stop me here with you



Maksudnya...disayang dan dihargai seseorang membuatkan kita ibarat Hulk ;kuat...


Kuat untuk mengharungi masa susah dan senang bersama..


Kuat untuk mendengar dan menasihati masing-masing tanpa rasa beban...

Kuat untuk berjalan-jalan walau penat...makan bersama... tunggu suami pulang walau penat...(haha)

Kuat...sebab satu fakta yang kita x boleh sangkal adalah...Jantung merupakan organ paling kuat ..

Fungsinya yang umum adalah menghantar darah kerseluruh tubuh badan...

Dan apabila kita menghadapi situasi putus kasih ..

Seluruh badan berasa lemah... Makan xlalu...<--- see..makan x kuat...



Memang beruntunglah kita sebagai manusia mempunyai rasa kasih sayang...

Pada pencipta, rasulullah s.a.w.,  ibu bapa, adik2, kekasih, binatang dan kereta?<--- lelaki, beg...<--- mmm



Love is always a feeling... you cannot see it...but you'll sure feel it....


to him i WILL be in love
may we grow old together...hihi








Sunday, 25 September 2011

Salam.Guten Morgen







Breakfast atau makan cepat atau sarapan sangat penting...




Kalau boleh jangan skip meal time...

Ni ade 2 tips untuk kuruskan kurangkan berat badan dalam masa 2minggu...



1)Ambil 2 keping roti wholewheat @sepenuhnya gandum dan titikkan 2 minyak zaitun...


  Kandungan karbohidrat kompleks di dalam roti mampu memberikan rasa kenyang yang lebih lama.


roti wholewheat tu utk penuhkan perut. amik 2 keping after makan. selain tu die tlg serap 


minyak@fat badan. minyak zaitun just 2 titik ltk kat roti...utk reduce penyumbatan (kurang 


sakit jntung)...


2)Jangan minum air berkarbonat

Have a nice day!

Injit injit semut

Salam...ambe nok cite pasal semut


Letak sekejab je makanan..pastu marilah deme ni...

Ntah mari mane ...



Namun, ini antara kehebatan semut...




SEMUT DAN JEJAK BAU
Teknik komunikasi dengan jejak (mengikuti jejak bau) sering digunakan oleh semut. Banyak contoh yang menarik dalam hal ini:

Semut yang menemukan sumber makanan meninggalkan jejak senyawa kimia di tanah melalui sengat pada bokongnya. Jejak yang dibuatnya membantu teman-temannya menemukan sumber makanan.
Suatu spesies semut yang hidup di gurun pasir di Amerika menge-luarkan bau khusus yang diproduksi di kantung racunnya jika ia menemukan serangga mati yang terlalu besar atau berat untuk di-bawanya. Teman-temannya sesarang dari jauh dapat mencium bau yang dikeluarkan dan mendekati sumbernya. Ketika jumlah semut yang berkumpul di sekitar mangsa sudah cukup, mereka membawa serangga tersebut ke sarang.
Ketika semut api berpisah untuk mencari makanan, mereka meng-ikuti jejak bau selama beberapa lama, lalu akhirnya berpisah dan mencari makanan masing-masing. Sikap semut api berubah jika sudah mene-mukan makanan. Kalau menemukan makanan, semut api kembali ke sarang dengan berjalan lebih lambat dan tubuhnya dekat dengan tanah. Ia menonjolkan sengatnya pada interval tertentu dan ujung sengat menyentuh tanah seperti pensil menggambar garis tipis. Demikianlah semut api meninggalkan jejak yang menuju ke makanan.



Marilah kita perhatikan 2 kisah berikut:

Dari Abu Hurairah ra, Rosulullah bersabda, "Ada salah seorang Nabi yang singgah di bawah pohon lalu digigit oleh seekor semut. Kemudian ia membinasakannya dan mencari tempat persembunyian semut tersebut. Setelah itu, ia menyuruh untuk membakar tempat tinggal semut tersebut. Kemudian Allah menanyakan kepadanya, "Apakah hanya karena gigitan seekor semut engkau membakar satu umat yang senantiasa bertasbih, mengapa tidak satu semut saja yang engkau bunuh?" (Shahih, HR. Bukhari dan yang lainnya)

Dalam kisah yang lain, Ahmad menceritakan bahwa Waki' memberitahukan kami, Mus'ir memberitahukan kami, dari Zaid Al-Ami, dari Abu Shadiq Al-Naji. Dia bercerita, Sulaiman bin Dawud pernah hendak pergi mencari air (maksudnya sholat Istisqo', meminta hujan kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala), lalu ia melihat seekor semut dengan bersandar ke punggungnya dan mengangkat ke dua kaki depannya ke langit mengucapkan, "Sesungguhnya kami adalah satu mahluk dari mahluk-mahlukMu, kami sangat butuh siraman dan rejekiMu. Baik Engkau akan mengucurkan air dan rejeki kepada kami atau membinasakan kami." Kemudian Sulaiman bertutur (kepada kaumnya), "Kembalilah pulang, kalian akan diberi air (hujan) melalui doa dari mahluk selain kalian" (HR. Imam Ahmad)

Dari 2 kisah tadi, Maha Suci Allah, Allah telah memberi petunjuk kepada semut untuk senantiasa bertasbih kepadaNya. Ketika semut membutuhkan bantuan dan pertolongan, ia meminta kepada Allah semata. Lalu bagaimana dengan kita yang merupakan mahluk yang paling baik yang telah diciptakan Allah? Kita senantiasa melupakan Allah karena terlena dengan kenikmatan dunia, jarang bersyukur atas karuniaNya, serta jarang berdoa kepadaNya. Sebagian besar di antara kita masih saja menyekutukan Allah dengan meminta bantuan kepada jin, tukang sihir, paranormal, orang yang telah meninggal, tempat atau benda yang dianggap keramat. Bahkan ketika tertimpa musibah bencana alam sebagian kita tetap saja melakukan ritual yang tidak ada dalam ajaran Islam serta menyekutukan Allah.

Hendaknya kita sebagai manusia merasa malu kepada semut yang selama ini kita anggap sepele, apalagi kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Wallahu a'lam ....

Sumber:
http://www.eramuslim.com/



I remember You by Skid Row



Woke up to the sound of pouring rain
The wind would whisper and I'd think of you
And all the tears you cried, that called my name
And when you needed me I came through

I paint a picture of the days gone by
When love went blind and you would make me see
I'd stare a lifetime into your eyes
So that I knew you were there for me
Time after time you were there for me

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights and every endless day
I'd wanna hear you say, I remember you

We spend the summer with the top rolled down
Wished ever after would be like this
You said I love you babe, without a sound
I said I'd give my life for just one kiss
I'd live for your smile and die for your kiss

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights and every endless day
I'd wanna hear you say, I remember you

We've had our share of hard times
But that's the price we paid
And through it all we kept the promise that we made
I swear you'll never be lonely

Woke up to the sound of pouring rain
Washed away a dream of you
But nothing else could ever take you away
'Cause you'll always be my dream come true
Oh my darling, I love you

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights and every endless day
I'd wanna hear you say, I remember you

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights and every endless day
I'd wanna hear you say, I remember you

Over the mountain by Bosson



I've made up my mind I've packed my bags

I´m not returning home,until someone will give me reason to


I lock the door and take a breath


I´m ready to let go, I know you´re somewhere out there too


there´s only one thing for me to do and I go

Over the mountains and over the sea


To find a heart that belongs to me


Anywhere in the world I go


Anywhere till I find you


I run through the valleys


I run through the fields


I'd do anything I am hard to please


And anywhere in the world I go


Anywhere till I find you


I fly like the wind, I don´t know where my heart will


lead the way


I need someone to love and hold on to


but the road is long I´ve had my doubts


but nothing lets me down cause


I know you´re somewhere outthere too waiting for me to get to you and I go...


[CHORUS]

It doesn't matter what


The time will tell


Cause I will be here waiting


For you, for you and me


It doesn't matter what the others say


Cause I will keep on searching


And I go and I go and I go and I go...


[CHORUS x 2]

Saturday, 24 September 2011

Yong Tau Foo

.
.
.
.
Bismilahirrahmanirahim....


اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ
Maksudnya : Ya Allah berkatilah kami padanya (makanan kami) dan kurniakanlah kami makanan yang lebih baik darinya.


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا الطَّعَامَ وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ
Maksudnya : Segala puji bagi Allah yang memberiku makan makanan ini dan memberi rezeki daripadanya tanpa daya dan upaya dariku.

INGAT Lagi X.....???



Salam bloggers reader....huhu... agak2 budak2 zaman sekarang tau ke mende ni...haha...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tada.......a balloon.... yang sangat susah nak tiup...sebab da lame kot...
De location is in lab...hihi....
Sowie puan hadijah....:)
love you.

.
.
.
.
.
.
.
and coklat susu...i love perisa strawberry and jagung and susu .

Andai Allah bagi Deadline...dan apa itu Istidraj.


Ok, bile cikgu bagi homework dan mesti ade deadline...tarikh sekian2 untuk anta @passed up homework tu...bile xhantar tepat pada tarikh yang cikgu bagi mesti kene denda kene duduk luar,rotan,kena baling 
buku...bile dah antar homework bila ada salah kena maki dengan cikgu,wat correction bila ada salah
 dan bila markah 10/10 kita rasa puas hati.Kadang cikgu bagi gambar binatang (arnab contohnya)
atau ucapan good job.Pastu dalam membuat kerja rumah tu mesti ade meniru...ahaha ade yang wat sendiri,ade yang xwat dan sebagainya.

Sekarang,cuba bayangkan Allah bagi deadline...
katakanlah...just katakan k...Tahun 2012@2013 konfirm kiamat. Allah bagi jam besar kat tanah arab Ok...Kau hanya mempunyai satu  tahun lagi untuk beribadat untukku. Jadi kita pun berlumbalah
beribadah.. dan makan,tak minum ,xbertani,xbekerja...beribadah atas sejadah je.Tak ikhlas sebab masing2 nak selamatkan diri sendiri.

Sejujurnya,bila ada yang menegur...
antara jawapan yang kita dapat
a)bila da puas ,akuk bertaubatlah
b)bila tua,aku bertaubatlah
c)kubur masing2
d)dia solat tapi buruk je perangai

Tujuan Maha pengasih lagi maha penyayang Maha adil adalah mencari hambaNya yang ikhlas beribadah padanya...Seperti dalam ayat (Adz Dzariyat : 56)Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia
Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku.

Jadi seharusnya apa yang perlu kita lakukan? berdoalah  kepada Allah, Allah lah tempat kembali segala masalah  yang sering membelenggu diri kita. Jangan malu untuk merayu-rayu, meminta-minta, memohon-mohon kepada Allah swt.Selalu diingatkan yang Allah tidak pernah jemu mendengar rintihan hambaNya, Allah itu Maha Mendengar.

Apa itu Istidraj... 

Kadang2 kita m'dengar org b'tanya "Kenapa kadang kala kita  lihat seseorg insan tu sentiasa dapat kegembiraan spt dapat naik pangkat, murah rezeki dll sedangkan dia tu selalu melakukan 
kemungkaran? ". 

Kdg kala sesuatu anugerah Allah swt kpd seseorg individu tu bukanlah sebab Allah sayangkan hambanya itu tetapi kerana Allah nak tengok sejauh mana keikhlasan orang itu. Allah nak tengok adakah hambanya
itu akan menyedari bahawa Allah amat bermurah hati dengannya jadi sepatutnya dia bersyukur dan berubah menjadi baik. Tapi jika individu itu masih tidak reti bersyukur maka sesungguhnya dia telah menimbulkan kemurkaan Ar-Rahman. 

Kenapa kdg2 kita dah banyak kali berdoa tapi belum dapat apa yang diimpikan. Itu tandanya Allah sayang pada kita.Sebabnya Allah tahu kalau  kita lambat atau belum dpt yg diimpikan, kita akan terus berdoa 
dan mengingati Ilahi. Sebenarnya Allah amat rindukan suara hamba-hambaNya merayu dan memujiNya. Kalau sekali berdoa terus dapat, kemungkinan besar lepas tu kita kita taksub dan lupa utk bersyukur 
pd yg Esa. 


Apakah dia istidraj itu? 

Ianya adalah pemberian nikmat Allah kepada manusia yang mana pemberian itu tidak diredhaiNya. Inilah yang dinamakan istidraj. Rasullulah s. a.w. bersabda :"Apabila kamu melihat bahawa Allah Taala memberikan nikmat kepada hambanya yang selalu membuat maksiat (durhaka),ketahuilah bahawa orang itu telah diistidrajkan oleh Allah SWT." 

(Diriwayatkan oleh At-Tabrani, Ahmad dan Al-Baihaqi) 

Tetapi, manusia yang durhaka dan sering berbuat maksiat yang terkeliru dengan pemikirannya merasakan bahawa nikmat yang telah datang kepadanya adalah kerana Allah berserta dan kasih dengan 
perbuatan maksiat mereka. 

Masih ada juga orang ragu-ragu, kerana kalau kita hendak dapat kebahagian didunia dan akhirat kita mesti ikut jejak langkah  Rasullulah saw dan berpegang teguh pada agama Islam. 

Tetapi bagaimana dengan ada orang yang sembahyang 5 waktu sehari semalam, bangun tengah malam bertahajjud, puasa bukan di bulan Ramadhan sahaja, bahkan Isnin, Khamis dan puasa sunat yang lain.
 Tapi, hidup mereka biasa sahaja.. Ada yang susah juga. Kenapa? Dan bagaimana pula orang yang seumur hidup tak sembahyang, puasa  pun tak pernah, rumahnya tersergam indah, kereta mewah menjalar,
 duit banyak, dia boleh hidup kaya dan mewah. 

Bila kita tanya, apa kamu takut mati? Katanya, alah, orang lain pun mati juga, kalau masuk neraka, ramai-ramai. 

Tak kisahlah! Sombongnya mereka, takburnya mereka. 


Kiamat atau "yawm ad-din" adalah rukun iman yang kelima yang wajib bagi setiap org Islam percaya dan yakin kepadanya.Berbagai-bagai perihal kiamat dijelaskan dalam Al Quran dan Al Hadis..
.namun apakah PENGAJARAN yang kita peroleh???

Tahu betapa dahsyatnya kiamat? betapa kehancuran yang total akan berlaku? langit dan bumi menuju kehancuran??? itu sahaja??

Sedarlah....sesungguhnya PENGAJARAN tentang apa yang akan berlaku di hari kiamat kelak adalah SETIAP YANG BERNYAWA AKAN MATI !!!

Pada hari tersebut semua yang hidup akan merasai MATI. Oleh yang demikian, sama ada kiamat itu akan berlaku semasa zaman kita atau zaman selepas kita, usahlah kita bimbangkan. Kerana setiap kita TETAP akan MATI juga. 

Apa yang patut kita bimbangkan adalah:-
1. Apakah bekal yang perlu kita bawa dan sediakan untuk hidup selepas mati? 
2. Sudahkah kita mula menyediakan bekalan tersebut?
3. Sudah cukupkah bekalan kita?

Kerana Akhirat itulah tempat yang KEKAL ABADI...tidak mungkin kita  dikembalikan semula ke dunia untuk merubah nasib dan menambah mahupun memperbetulkan amalan kita....

Kerana mati itu tidak kita ketahui, mungkin hari ini, esok, lusa, minggu hadapan, bulan hadapan, tahun hadapan? Maka janganlah bertangguh lagi, kerana mati itu tidak akan menunggu kita sampai 
kita benar-benar bersedia.

Dunia tak lain hanyalah kesempatan dan persinggahan untuk menyediakan bekalan hidup selepas mati.

Ambillah Iktibar daripada peringatan Allah swt tentang Akhirat dengan mempersiapkan diri....
tanpa berlengah marilah kita mula bersiap sedia menyiapkan bekalan untuk kemudian hari kelak....

Friday, 23 September 2011

Pernikahan Rasulullah




Pertama : Bermimpi Matahari Turun Ke Rumahnya
Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa  Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.
Banyak pemuka Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kahwin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya. Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya ke merata tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.
Mimpi itu diceritakan kepada anak bapa saudaranya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.
Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahawa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.”
“Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh.
“Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat.
“Dari suku mana?”
“Dari suku Quraisy juga.”
Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?”
“Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur.
Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai anak bapa saudaraku?”
Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”
Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya. Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah sentiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.
Kedua : Rasulullah Berniaga
Muhammad, bakal suami wanita hartawan itu, adalah seorang yatim piatu yang miskin sejak kecilnya, dipelihara oleh bapa saudaranya, Abu Thalib, yang hidupnya pun serba kekurangan. Meskipun demikian, bapa saudaranya amat sayang kepadanya, menganggapnya seperti anak kandung sendiri, mendidik dan mengasuhnya sebaik-baiknya dengan adab, tingkah laku dan budi pekerti yang terpuji.
Pada suatu ketika, Abu Thalib berbincang-bincang dengan saudara perempuannya bernama ‘Atiqah mengenai diri Muhammad. Beliau berkata: “Muhammad sudah pemuda dua puluh empat tahun. Semestinyalah sudah kahwin. Tapi kita tak mampu mengadakan perbelanjaan, dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.”
Setelah memikirkan segala ikhtiar, ‘Atiqah pun berkata: “Saudaraku, saya mendengar berita bahawa Khadijah akan memberangkatkan kafilah niaga ke negeri Syam dalam waktu dekat ini. Siapa yang berhubungan dengannya biasanya rezekinya bagus, diberkati Allah SWT. Bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya? Saya kira inilah jalan untuk memperolehi nafkah, kemudian dicarikan isterinya.”
Abu Thalib menyetujui saranan saudara perempuannya. Dirundingkan dengan Muhammad, ia pun tidak keberatan. 
‘Atiqah mendatangi wanita hartawan itu, melamar pekerjaan bagi Muhammad, agar kiranya dapat diikut sertakan dalam kafilah niaga ke negeri Syam.
Khadijah, tatkala mendengar nama “Muhammad”, ia berfikir dalam hatinya: “Oh… inilah takbir mimpiku sebagaimana yang diramalkan oleh Waraqah bin Naufal, bahawa ia dari suku Quraisy dan dari keluarga Bani Hasyim, dan namanya Muhammad, orang terpuji, berbudi pekerti tinggi dan nabi akhir zaman.” Seketika itu juga timbullah hasrat di dalam hatinya untuk bersuamikan Muhammad, tetapi tidak dilahirkannya kerana khuatir akan fitnah.
“Baiklah,” ujar Khadijah kepada ‘Atiqah, “saya terima Muhammad dan saya berterima kasih atas kesediaannya. Semoga Allah SWT melimpahkan berkatnya atas kita bersama.”. Wajah Khadijah cerah, tersenyum sopan, menyembunyikan apa yang tersudut di kalbunya.
Kemudian ia meneruskan: “Wahai ‘Atiqah, saya tempatkan setiap orang dalam rombongan niaga dengan penghasilan tinggi, dan bagi Muhammad SAW akan diberikan lebih tinggi dari biasanya.”
‘Atiqah berterima kasih, ia pulang dengan perasaan gembira menemui saudaranya, menceritakan kepadanya hasil perundingannya dengan wanita hartawan dan budiman itu. Abu Thalib menyambutnya dengan gembira. 
Kedua bersaudara itu memanggil Muhammad SAW seraya berkata: “Pergilah anakanda kepada Khadijah r.a, ia menerima engkau sebagai pekerjanya. Kerjakanlah tugasmu sebaik-baiknya.”
Muhammad SAW menuju ke rumah wanita pengusaha itu. Sementara akan keluar dari pekarangan rumah bapa saudaranya, tiba-tibalah ia mencucurkan air mata kesedihan mengenang nasibnya. Tiada yang menyaksikannya dan menyertainya dalam kesedihan hati itu selain para malaikat langit dan bumi.
Ketiga : Kesaksian Seorang Rahib
Tatkala kafilah niaga itu siap akan berangkat, berkatalah Maisarah, kepala rombongan: “Hai Muhammad, pakailah baju bulu itu, dan peganglah bendera kafilah. Engkau berjalan di depan, menuju ke negeri Syam!”
Muhammad SAW melaksanakan perintah. Setelah iring-iringan keluar dari halaman memasuki jalan raya, tanpa sedar Muhammad SAW menangis kembali, tiada yang melihatnya kecuali Allah dan para malaikat-Nya. Dari mulutnya terucap suara kecil: “Aduh hai nasib! Mana gerangan ayahku Abdullah, mana gerangan ibuku Aminah. Kiranyalah mereka menyaksikan nasib anakandanya yang miskin yatim piatu ini, yang justeru lantaran ketiadaannyalah sehingga terbawa jadi buruh upahan ke negeri jauh. Aku tidak tahu apakah aku masih akan kembali lagi ke negeri ini, tanah tumpah darahku.”
Jeritan batin itu membuat para malaikat langit bersedih. Mereka memintakan rahmat baginya. Maisarah memperlakukan Muhammad SAW dengan agak istimewa, sesuai dengan wasiat Khadijah. Diberinya pakaian terhormat, kenderaan unta yang tangkas dengan segala perlengkapannya.
Perjalanan mengambil waktu beberapa hari. Terik matahari begitu panas sekali. Tetapi Muhammad SAW berjalan sentiasa dipayungi awan yang menaunginya hingga mereka berhenti di sebuah peristirehatan dekat rumah seorang Rahib Nasrani.
Muhammad SAW turun dari untanya, pergi berangin-angin melepaskan lelah di bawah pohon yang teduh. Rahib keluar dari tempat pertapaannya. Ia terhairan-hairan melihat gumpalan awan menaungi kafilah dari Makkah, padahal tak pernah terjadi selama ini. Ia tahu apa erti tanda itu kerana pernah dibacanya di dalam Kitab Taurat. 
Rahib menyiapkan suatu perjamuan bagi kafilah itu dengan maksud untuk menyiasat siapa pemilik karamah dari kalangan mereka.
Semua anggota rombongan hadir dalam majlis perjamuan itu, kecuali Muhammad SAW seorang diri yang tinggal untuk menjaga barang-barang dan kenderaan. Ketika Rahib melihat awan itu tidak bergerak, tetap di atas kafilah, bertanyalah beliau: “Apakah di antara kalian masih ada yang tidak hadir di sini?”
Maisarah menjawab: “Hanya seorang yang tinggal untuk menjaga barang-barang.”
Rahib pergi menjemput Muhammad SAW dan terus menjabat tangannya, membawanya ke majlis perjamuan. Ketika Muhammad SAW. bergerak, Rahib memperhatikan awan itu turut bergerak pula mengikuti arah ke mana Muhammad SAW berjalan. Dan di saat Muhammad SAW masuk ke ruangan perjamuan, Rahib keluar kembali menyaksikan awan itu, dan dilihatnya awan itu tetap di atas, tidak bergerak sedikit pun walaupun dihembus angin. Maka mengertilah ia siapa gerangan yang memiliki karamah dan keutamaan itu.
Rahib masuk kembali dan mendekati Muhammad SAW, bertanya: “Hai pemuda, dari negeri mana asalmu?”
“Dari Makkah”.
“Dari qabilah mana?” tanya sang Rahib.
“Dari Quraisy, tuan!”
“Dari keluarga siapa?”
“Keluarga Bani Hasyim.”
‘Siapa namamu?”
“Namaku, Muhammad.”
Serta merta ketika mendengar nama itu, Rahib berdiri dan terus memeluk Muhammad SAW serta menciumnya di antara kedua alisnya seraya mengucapkan: “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammadar Rasulullah.”
Ia menatap wajah Muhammad SAW dengan perasaan takjub, seraya bertanya: “Sudikah engkau memperlihatkan tanda di badanmu agar jiwaku tenteram dan keyakinanku lebih mantap?”
“Tanda apakah yang tuan maksudkan?” tanya Muhammad SAW.
“Silakan buka bajumu supaya kulihat tanda akhir kenabian di antara kedua bahumu!”
Muhammad SAW. memperkenankannya, dimana Rahib tua itu melihat dengan jelas ciri-ciri yang dimaksudkan. 
“Ya….ya….tertolong, tertolong!” seru Rahib. “Pergilah ke mana hendak pergi. Engkau terus ditolong!”
Rahib itu mengusap wajah Muhammad SAW, sambil menambahkan: “Hai hiasan di hari kemudian, hai pemberi syafa’at di akhirat, hai peribadi yang mulia, hai pembawa nikmat, hai nabi rahmat bagi seluruh alam!”
Dengan pengakuan demikian, Rahib dari Ahlil-Kitab itu telah menjadi seorang muslim sebelum Muhammad SAW. dengan rasmi menerima wahyu kerasulan dari langit.
Keempat : Paderi Yahudi Gementar Ketakutan
Pasar dibuka beberapa hari lamanya. Semua jualan laris dengan keuntungan berlipat ganda, mengatasi pengalaman yang sudah-sudah. Kebetulan pada saat itu bertepatan dengan hari Yahudi, yang dimeriahkan dengan upacara besar-besaran.
Muhammad SAW, Abu Bakar dan Maisarah keluar menonton keramaian itu. Tatkala Muhammad SAW memasuki tempat upacara untuk menyaksikan cara mereka beribadat, maka tiba-tiba berjatuhanlah semua lilin-lilin menyala yang bergantungan pada tali di sekitar ruangan, yang menyebabkan paderi-paderi Yahudi gementar ketakutan.
Seorang di antara mereka bertanya: “Alamat apakah ini?” Semuanya hairan, cemas dan ketakutan. 
“Ini bererti ada orang asing yang hadir di sini,” jawab pengerusi upacara. “Kita baca dalam Taurat bahawa alamat ini akan muncul bilamana seorang lelaki bernama Muhammad SAW, Nabi akhir zaman, mendatangi hari raya agama Yahudi. Mungkinlah sekarang orang itu berada di ruangan kita ini. Carilah lelaki itu, dan kalau bertemu, segeralah tangkap!”
Abu Bakar r.a, sahabat Muhammad SAW sejak dari kecil, dan Maisarah, yang mendengar berita itu segera mendekati Muhammad SAW yang berdiri agak terpisah, dan mengajaknya keluar perlahan-lahan di tengah-tengah kesibukan orang yang berdesak-desakan keluar masuk ruangan.
Tanpa menunda waktu lagi, Maisarah segera memerintahkan kafilah berangkat pulang ke Makkah. Dengan demikian tertolonglah Muhammad SAW dari kejahatan orang-orang Yahudi.
Kelima : Rasulullah Pulang Ke Mekah
Biasanya dalam perjalanan pulang, kira-kira jarak tujuh hari lagi mendekati Makkah, Maisarah mengirim seorang utusan kepada Khadijah r.a, memberitahukan bakal kedatangan kafilah serta perkara-perkara lain yang menyangkut perjalanan.
Maisarah menawarkan kepada Muhammad SAW: “Apakah engkau bersedia diutus membawa berita ke Makkah?” 
Muhammad SAW berkata: “Ya, saya bersedia apabila ditugaskan”.
Pemimpin rombongan mempersiapkan unta yang cepat untuk dinaiki oleh utusan yang akan berangkat terlebih dahulu ke kota Makkah. Ia pun menulis sepucuk surat memberikan kepada majikannya bahawa perniagaan kafilah yang disertai Muhammad SAW mendapat hasil laba yang sangat memuaskan, dan menceritakan pula tentang pengalaman-pengalaman aneh yang berkaitan dengan diri Muhammad SAW.
Tatkala Muhammad SAW menuntun untanya dan sudah hilang dari pandangan mata, maka Allah SWT menyampaikan wahyu kepada malaikat Jibril a.s .: 
“Hai Jibril, singkatkanlah bumi di bawah kaki-kaki unta Muhammad SAW! Hai Israfil, jagalah ia dari sebelah kanannya! Hai Mikail, jagalah ia dari sebelah kirinya! Hai awan, teduhilah ia di atas kepalanya!”
Kemudian Allah SWT mendatangkan ngantuk kepadanya sehingga baginda SAW tertidur nyenyak dan tiba-tiba telah sampai di Makkah dalam tempoh yang cukup singkat. Saat terbangun, ia hairan mendapati dirinya telah berada di pintu masuk kota kelahirannya. Baginda SAW sedar bahawa ini adalah mukjizat Tuhan kepadanya, lalu bersyukur memuji Zat Yang Maha Kuasa.
Sementara baginda SAW mengarahkan untanya menuju ke tempat Khadijah r.a, secara kebetulan Khadijah r.a pada saat itu sedang duduk sambil kepalanya keluar jendela memandangi jalan ke arah Syam, tiba-tiba dilihatnya Muhammad SAW di atas untanya dari arah bertentangan di bawah naungan awan yang bergerak perlahan-lahan di atas kepalanya. 
Khadijah r.a menajamkan matanya, bimbang kalau-kalau tertipu oleh penglihatannya, sebab yang dilihatnya hanyalah Muhammad SAW sendirian tanpa rombongan, padahal telah dipesannya kepada Maisarah agar menjaganya sebaik-baik. Ia bertanya kepada wanita-wanita sahayanya yang duduk di sekitarnya: “Apakah kamu mengenali siapa pengendara yang datang itu?” sambil tangannya menunjuk ke arah jalan.
Seorang di antara mereka menjawab: “Seolah-olah Muhammad Al-Amiin, ya sayyidati!”
Kegembiraan Khadijah r.a terlukis dalam ucapannya: “Kalau benar Muhammad Al-Amiin, maka kamu akan kumerdekakan bilamana ia telah sampai!”
Tak lama kemudian muncullah Muhammad SAW di depan pintu rumah wanita hartawan itu, yang langsung menyambutnya dengan tutur sapa tulus ikhlas: “Kuberikan anda unta pilihan, tunggangan khusus dengan apa yang ada di atasnya.”
Muhammad SAW mengucapkan terima kasih, kemudian menyerahkan surat dari ketua rombongan. Ia minta izin pulang ke rumah bapa saudaranya setelah melaporkan tentang perniagaan mereka ke luar negeri.
Keenam : Khadijah Menawarkan Diri
Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” Suaranya ramah, bernada dermawan.
Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu diharga dirinya, Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti. Katanya: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bahagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”. Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban.
“Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,” kata Khadijah r.a. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”. Ia berhenti sejenak, meneliti. Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandungi isyarat: “Aku hendak mengahwinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diingini oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”. Khadijah tertunduk lalu melanjutkan: “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mahu, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.
Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa mahu dijawab.
Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.
Ia minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada bapa saudaranya: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.
‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”. 
‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”
Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahawa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah: “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahawa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mahu, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak, aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.
Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius.
“Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah dimaklumi oleh anak bapa saudaramu Waraqah bin Naufah?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cubalah meminta persetujuannya.”
“Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan kerana dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.
‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah r.a.
“Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermesyuarat dengan Muhammad SAW lebih dahulu.”
Ketujuh : Janda Cantik
Sebelum dijemput bermesyuarat oleh bapa saudaranya, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya: “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”
Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”
“Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”
“Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.
“Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”
Usaha Nafisah berjaya. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.
Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan utamanya pula kerana hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya.
Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu. Hadir sama Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan rasmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita berkenaan.
Kelapan : Pernikahan Rasulullah
Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak bapa saudaraku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”.
“Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah.
“Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.
Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahawa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat muafakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kahwin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi kerana yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.
Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jumaat, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah bapa saudaranya bernama ‘Amir bin Asad, sedang Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut:
“Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar.
“Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.
“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, nescayalah ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah sama mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kahwin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.
“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahawa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat.
“Semoga Allah memberkati pernikahan ini”.
Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.
Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak mahupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”
Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”.
(Adh-Dhuhaa: 8)
Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.
Kesembilan : Dijamin Syurga
Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai kerana kematian. Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).
Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang dihantar Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata: “Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita.
“Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang sentiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau sentiasa menyantumi anak yatim piatu, menghormati tetamu dan menghulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”
Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih engkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.
Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain iaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang dihantar oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s  peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.
Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW  kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: 
“Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.
Kesepuluh : Wanita Terbaik
Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, kerana dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam bimbang keengkaran; dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.
Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dibangsakan sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.

Saturday, 17 September 2011

Sanggul berupa bongol unta

Sanggul dalam keadaan biasa yang dibuat wanita untuk mengemaskan rambutnya untuk mengelak dari mengurai, tidaklah ada larangan Syarak terhadapnya asalkan ia tidak mendedahnya untuk tontonan orang ramai (selain suami, mahram dan sesama wanita) kerana rambut berada dalam kawasan aurat yang wajib ditutup. Adapun sanggul yang dibuat untuk tujuan fesyen dan untuk menunjuk-nunjuk kepada orang lain (yakni sekalipun berada di bawah tudung, tetapi menjadi tarikan kepada orang lain) dibimbangi wanita yang melakukannya tergolong dalam salah satu dari dua golongan ahli neraka yang disebut oleh Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadis di bawah;

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا
“Dua golongan dari ahli neraka yang aku belum melihat kedua-duanya iaitu;
1. Kaum yang membawa cambuk seperti ekor lembu untuk memukul manusia dengannya, dan;
2. Wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencederungkan orang lain kepadanya. Kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta yang senget. Mereka ini
tidak akan dapat memasuki syurga dan tidak akan mencium baunya di mana bau syurga dapat dicium dari jarak perjalanan sekian sekian jauh”.
(Riwayat Imam Muslim dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-).[1] 

Dalam hadis di atas, Nabi mendedahkan dua golongan dari umatnya yang perlakuan mereka belum nampak pada zaman baginda akan tetapi akan muncul pada zaman selepas baginda, iaitu;
a) Golongan pertama; golongan yang suka mendera dan memeras orang-orang bawahannya (termasuk pemerintah-pemerintah yang zalim) di mana mereka diumpamakan Nabi seperti seorang tuan yang memegang cambuk dan memukul hamba bawahannya.
b) Golongan kedua; wanita-wanita yang berpakaian tetapi bertelanjang (yakni tidak menutup aurat dengan sempurna) di mana mereka cenderung kepada maksiat dan melakukan tindakan-tindakan yang mendorong orang lain kepada maksiat.

Di dalam hadis di atas, bukan larangan sanggul yang dimaksudkan oleh Nabi apabila menyebutkan “kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta…”, akan tetapi tujuan sanggul itu dibuat iaitulah untuk menarik perhatian orang lain kepada mereka di samping mereka mendedahkan sanggul itu untuk diperlihatkan kepada orang ramai. Ini dapat kita fahami dari keadaan mereka yang disifatkan Nabi dalam ungkapan sebelumnya “…berpakaian tetapi bertelanjang, yang cenderung kepada perbuatan maksiat dan mencederungkan orang lain kepada maksiat…”.

Menurut Imam an-Nawawi; maksud ungkapan Nabi “kepala-kepala mereka umpama bonggol-bonggol unta” ialah mereka membesarkan rambut di kepala mereka dengan melilitnya dengan kain serban atau kain-kain lilitan yang lain (Syarah Soheh Muslim). Jelaslah kepada kita bahawa yang dimaksudkan oleh Nabi dalam hadis di atas –berdasarkan tafsiran ulamak- ialah fesyen-fesyen yang dibuat pada rambut untuk tujuan menarik perhatian orang lain.

Wanita-wanita Islam wajib menjaga penampilan diri mereka agar jangan menimbulkan ghairah dan nafsu lelaki ajnabi walaupun dengan perbuatan yang hukum asalnya adalah harus. Sebagai contoh;

a) Suara wanita hukum asalnya
tidaklah aurat (yakni harus diperdengarkan). Namun apabila suaru itu dimanja-manjakan (atau dialun-alunkan seperti nyanyian, nasyid dan sebagainya) maka ia menjadi aurat yang tidak boleh diperdengarkan kecuali kepada suami dan mahram sahaja. Firman Allah; “…janganlah kamu berkata-kata dengan lembut manja (semasa bercakap dengan lelaki asing) kerana yang demikian boleh menimbulkan keinginan orang yang ada penyakit dalam hatinya (menaruh tujuan buruk kepada kamu), dan sebaliknya berkatalah dengan kata-kata yang baik (sesuai dan sopan)”. (al-Ahzab; 32)
b)
Harus wanita memakai gelang kaki. Namun jika ia menghentak-hentakkan kakinya untuk memperdengarkan bunyi gelang kaki itu kepada orang lain (yang bukan suami dan mahramnya) atau ia memakai gelang kaki yang berloceng, maka hukumnya adalah haram sebagaimana larangan Allah dalam surah an-Nur (bermaksud); “Dan janganlah mereka menghentakkan kaki untuk diketahui orang akan apa yang tersembunyi dari perhiasan mereka”. (ayat 31). Larangan ini mungkin boleh dikiaskan kepadanya kasut-kasut tumit tinggi yang dipakai oleh wanita hari ini di mana apabila ia berjalan, bunyi tapak kasutnya akan menarik perhatian orang lain untuk berpaling kepadanya.

Kesimpulannya, sanggul pada asalnya tidaklah dilarang, namun jika dibuat dengan tujuan untuk memperlihatkan keaadan sanggul itu di khalayak ramai atau untuk menarik perhatian mereka, ia adalah dilarang berdasarkan ayat al-Quran dan hadis di atas.

Wallahu a’lam.

Rujukan;

1. Syarah Soheh Muslim, Imam an-Nawawi, juz. 14, bab an-Nisa’ al-Kasiyaat…
2. Fatawa wa Istisyaraat laman al-Islam al-Yaum (http://www.islamtoday.net), no. 16/158.
3. Al-Halal wa al-Haram, Dr. Yusuf al-Qaradhawi.

Nota hujung;

[1] Berkata Dr. Yusuf al-Qaradhawi; “Rasulullah s.a.w. melalui pandangan ghaibnya seolah-olah melihat kepada zaman ini, zaman di mana terdapat kedai-kedai atau salun-salun khas untuk menggubah rambut wanita, mencantikannya dan mempelbagaikan fesyen-fesyennya. Biasanya kedai-kedai atau salun-salun ini diselia oleh lelaki-lelaki yang melakukan kerja mereka bagi mendapat upah atau bayaran. Bukan sekadar itu, malah ramai wanita yang tidak memadai dengan rambutnya yang sedia ada yang dianugerahkan Allah, maka mereka membeli pula rambut-rambut palsu. Rambut palsu ini mereka sambungkan dengan rambut asal mereka untuk kelihatan lebih ikal, bersinar dan cantik, supaya dengan itu diri mereka menjadi lebih menarik dan menggoda…”. (al-Halal wa al-Haram, Dr. Yusuf al-Qaradhawi, halaman 84-85).




Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...